Polemik Tiket Pesparawi, Pegawai Setwan Bantah Terima Rp700 Juta

by -421 views
Poto ilustrasi "Terima Uang"
Poto ilustrasi "Terima Uang"

Tanjungpinang, (digitalnews) – Polemik tiket peswat peserta Pesparawi akhirnya dijawab oleh Pegawai Sekretariat DPRD (Setwan) Kepulauan Riau (Kepri), inisial H.

Ia membantah menerima uang sebesar Rp700 juta dari agen perjalanan terkait pengadaan tiket peserta Pesparawi Kepri menuju Manokwari, Papua Barat.

“Saya tidak pernah menerima dana tersebut seperti isu yang berkembang saat ini,” kata H dengan tegas, kepada sejumlah awak media, Selasa (01/07/2026).

Menurut H, ia justru diminta membantu pemesanan tiket pesawat dan akomodasi menggunakan uang pribadi berdasarkan kesepakatan dengan pihak agen perjalanan.

“Saya tegaskan lagi, saya tidak ada menerima uang Rp700 juta itu. Saya hanya menjalankan pemesanan tiket sesuai permintaan. Ada kesepakatan bahwa saya menalangi biaya tiket menggunakan uang pribadi,” ujar H.

H kembali menegaskan, bahwa dirinya tidak memiliki hubungan dengan Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kepri maupun panitia penyelenggara.

Keterlibatannya, murni sebagai rekanan yang membantu proses pemesanan tiket atas permintaan pihak travel. H mengaku pertama kali dihubungi Direktur PT Rizki Evanti Bersahaja Tour & Travel, inisial VEH, pada 11 Juni 2026.

“Saya awalnya ditugaskan untuk membantu pengadaan tiket keberangkatan dan kepulangan sebanyak 65 peserta Pesparawi Kepri dengan estimasi nilai sekitar Rp700 juta. Itu sesuai kesepatakan,” ungkapnya.

Namun, dana tersebut, menurutnya, bukan diserahkan kepadanya, melainkan merupakan nilai keseluruhan kebutuhan perjalanan.

Saat itu ia diminta membelikan 11 tiket pesawat bagi para ofisial Pesparawi tujuan Batam-Manokwari untuk keberangkatan 18 Juni 2026. Untuk kebutuhan tersebut, ia mengeluarkan dana pribadi sekitar Rp120 juta, ditambah biaya enam kamar hotel sebesar Rp5,76 juta.

Kemudian, lanjut H, pada 22 Juni 2026, ia kembali diminta membeli tiket bagi 27 peserta dengan keberangkatan 24 Juni 2026. Ia mengaku mengeluarkan dana Rp267,67 juta untuk tiket serta Rp1,9 juta untuk dua kamar hotel.

Permasalahan muncul ketika rombongan peserta perempuan dijadwalkan berangkat pada 25 Juni 2026. Penerbangan lanjutan dari Jayapura menuju Manokwari tidak tersedia pada hari yang sama.

“Saat itu rute Jakarta-Jayapura tersedia, tetapi penerbangan Jayapura-Manokwari sudah tidak ada. Kalau dipaksakan berangkat, rombongan tetap tidak bisa langsung ke Manokwari. Pilihannya berangkat keesokan hari, tetapi konsekuensinya peserta tidak bisa bertanding,” bebernya.

Ia mengaku telah menyampaikan kondisi tersebut kepada pihak travel. Namun, para peserta akhirnya memilih membatalkan keberangkatan dan kembali ke Tanjungpinang.

Sebelum kepulangan, dirinya kembali diminta menyiapkan 14 kamar hotel dengan biaya Rp9,8 juta, kemudian membeli tiket kepulangan Jakarta-Tanjungpinang untuk 27 peserta senilai Rp52,1 juta.

Secara keseluruhan, H mengklaim telah mengeluarkan dana pribadi sebesar Rp508.344.751 untuk pembelian tiket pesawat dan pembayaran hotel.

“Total uang yang saya keluarkan mencapai Rp508.344.751. Jadi saya bukan menerima uang Rp700 juta, tetapi justru mengeluarkan dana pribadi untuk memenuhi pesanan tiket dan hotel,” pungkasnya. (*)

Penulis: Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.