Momen HPI 2022, Joko Yuhono: “Kita adalah Satu”

by -43 views
Kajari Tanjungpinang Joko Yuhono di Momen HPI 2022
Kajari Tanjungpinang Joko Yuhono di Momen HPI 2022

Tanjungpinang, (digitalnews) – Pada momen perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2022 di Kota Tanjungpinang kini sangat dirasakan oleh penyair-penyair yang sudah lama “Diam” sejak Pandemi Covid-19.

Lebih dari 50 pembaca puisi berkumpul di kafe DAY Headquarters di wilayah Tepi Laut, Selasa (26/07/2022) dari petang hingga malam.

Tak luput pula hadir di kegiatan Pusat Kebudayaan itu Kajari Tanjungpinang Joko Yuhono dan ia pun menyumbangkan 1 buah puisi andalan.

Sebelum membaca puisi, ia mengumandangkan kata-kara mutiara “Satu Gubernur Cukup Memimpin Kepri, Seribu Penyair Masih Kurang Menyuarakan Kepri”.

Lalu dengan lantang ia pun berpuisi:

KITA ADALAH SATU

Walikota kita satu
Ketua dewan kita satu
Sekda kita satu
Anggaran kita satu
Rakyat kita satu

Tapi mengapa kita selalu berseteru
Mengapa kita tak bisa bersatu
Padahal di waktu bulan madu pemilu
Kita selalu berseru
Kota Tanjungpinang Maju

Wahai para pemimpinku
Hapuslah laraku
Hilangkan deritaku
Damaikan tanah melayuku
Sejahterakan bumi gurindamku

Di ujung malam sepiku
Aku merindukan kata-kata indahmu
Aku selalu menanti janji-janjimu
Dan aku ingin tidur bersama mimpimu

Itulah sebait puisi isi hati Kajari Joko Yuhono. Walau ia bukan asli Tanjungpinang namun ingin pemerintah dan masyarakat bersatu.

Usai mendengarkan puisi Kajari Tanjungpinang, Husnizar Hood menyebutkan, puisi bukan hanya milik penyair, tapi juga semua masyarakat tanpa terkecuali.

“Itu mengapa kami mengajak siapa saja yang mau membaca puisi untuk hadir di sini,” kata seniman yang menginisiasi panggung pembacaan puisi itu.

Perayaan HPI tahun ini menjadi lebih spesial karena bersempena dengan 100 tahun Chairil Anwar, penyair angkatan 45 yang menjadi tonggak penting lagi besar perpuisian Indonesia.

Uniknya, dalam kegiatan sempena HPI 2021, bukan cuma kehadiran para pejabat yang menjadikan panggung pembacaan puisi kian menarik, melainkan gerakan yang disuarakan dari atas panggung.

Mereka, para seniman itu, mengajak siapapun yang hadir “patungan” untuk pembangunan Pusat Kebudayaan Kepulauan Riau.

“Tentu takkan sampai terkumpul Rp30 miliar seperti pembangunan gedung yang itu,” ujar Husnizar sambil menunjuk salah satu gedung.

“Tapi, setidaknya, kita menyuarakan bahwa Kepri harus punya pusat kebudayaan yang di dalamnya terdapat gedung kesenian,” sambung Fatih Muftih pembawa acara.

Lanjut Husnizar, Provinsi Kepri dan segenap potensi kebudayaannya, perlulah memiliki sebuah area khusus semisal gedung kesenian untuk membangun ekosistem kesenian yang lebih baik lagi.

“Seperti TIM di Jakarta atau Bandar Serai di Pekanbaru. Kepri juga harus punya, apalagi terkandung kata berbudaya dalam visi gubernurnya,” pungkasnya. (*)

Penulis: Era

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.